Pemuda Aceh Peduli Sesama! Itulah bendera yang kami bawa untuk memenuhi panggilan hati, untuk mengisyaratkan jiwa kemanusiaan, untuk mengagungkan alam-Nya, untuk menyambung tali persaudaraan yang selama ini dibatasi oleh bentangan samudera.
Kami tak ambil pusing dengan apa yang kami bawa kesana, karena sungguh bukan kuantitas yang menjadi jaminan, melainkan keikhlasan yang sampai mati diusahakan. Karena kami percaya pemberian terbaik adalah pemberian yang tidak sengaja ditunda-tunda oleh sebab apapun.
Bulan Oktober tahun 2012, mulai dari tanggal 8 s/d 13 kami menggerakkan langkah kaki, mengubah haluan pandang kepada yang terlupakan, yang terabaikan dan yang sengaja ditinggalkan. Peunasoe Island orang-orang ‘bule’ menyebutnya, Pulau Nasi orang-orang lebih mahir mengucapkannya. Tepat sekali, pada kesempatan itu kami mengunjungi Surga Yang terabaikan!
Dari sudut Kota yang penuh dengan hedonisme, kapitalisme, egoisme kami tidak melihat kehebatan apapun dari Pulau Nasi. Yang kami tahu, orang-orang Kota selalu mendiskreditkan potensi Pulau ini. Ternyata! Kami merasa sangat beruntung sekali dapat hadir langsung kesana, kami tidak ingin menyalahkan pihak manapun, kami hanya ingin meneriakkan ditelinga-telinga mereka dengan ucapan ini “Anda Harus Datang Ke Pulau Ini, Wajib Hukumnya”
Namun, tak ada gading yang tak retak! Pastilah ada beberapa unsur yang harus disentuh, ada beberapa percepatan yang harus dilakukan agar orang-orang tak lagi melihat Pulau Nasi dengan sebelah mata.
Pendidikan & Kemakmuran Masjid adalah fokus utama dari program baksos ini. Dilema dunia pendidikan pulau ini tidak ingin kami dramatisir keadaannya, tapi biarlah kami bicara sesuai fakta. SDN Gampong Deudap adalah sekolah dasar yang secara sarana & prasarana sudah cukup baik, alat peraga sudah ada, papan tulis sudah ada beserta alat tulisnya, meja guru & meja murid sudah memenuhi standard, perpustakaan pun sudah memiliki ruang & luas yang memadai, sumber air bersih tersedia, papan rencana program kepala sekolah tergantung didinding ruang guru. Maknanya, secara sarana & prasarana sudah mengikuti standard sekolah-sekolah di Kota-kota. Akan tetapi, fakta bicara ; jumlah murid yang mau belajar itu sedikit sekali, dari sekian pandangan miris yang kami temui disana adalah siswa kelas 5 hanya berjumlah 1 orang saja, dialah juara kelasnya & dialah rangking terakhir dikelasnya. Kemudian ditambah dengan tingkah/perilaku guru-gurunya yang sedikit diluar kebiasaan.
Mulai dari Kepala Sekolah sampai dengan guru-gurunya sangat sering menghabiskan waktunya di Kota Banda aceh, padahal itu bukan hari libur alias sebenarnya waktunya diabdikan di sekolahnya. Kami mencoba mencari akar permasalahannya, mulai dari prediksi ketidaksempurnaan fasilitas guru-guru disana (tempat tinggal) pun kami gali informasinya. Ternyata bukan itu masalahnya! Sebab pemerintah telah menyediakan beberapa rumah tipe couple untuk kemaslahatan guru-guru disana. Akhirnya, dengan segala strata pendidikan yang masih harus terus diasah, kami pun menyimpulkan bahwa instrumen yang harus dibenahi dalam dunia pendidikan disana adalah Sumber Daya Kesadaran Diri (SDKD).
Tidak ingin terjebak dengan carut-marut itu, kami pun terinspirasi untuk menyelenggarakan program sederhana yang kami kemas dalam kegiatan FunGames. Kami fikir anak-anak disana perlu dimanjai sesuai usianya, perlu diajak rehat & beristirahat, perlu diajak tertawa dan bahagia, karena kami tak pernah tahu apakah anak-anak itu mampu terus bahagia selepas ia pulang dari sekolah.
Kini, kita bicara kemakmuran Masjid. Kami percaya, Masjid ibarat jantung manusia, bilamana jantung tetap sehat, tetap berdetak maka aliran darah pun mengalir dengan merata, mendistribusikan setiap kebutuhan dari organ-organ tubuh lainnya. Begitu juga dengan Masjid, bilamana masjid dimakmurkan, maka seluruh instrumen pembangunan sekitar (desa/kota) akan terlaksana dengan baik alias akan makmur. Pendidikannya, ekonomi pedesaan/perkotaannya, kualitas SDM-nya, dan hal-hal lain yang menjadi pilar penting dalam memajukan sebuah desa/kota.
Namun, ditengah harapan seperti yang kami ceritakan diatas, lagi-lagi pemandangan tidak sedap terhampar dihadapan kami. Tak usahlah berbicara terlalu jauh. Kualitas sholat berjamaahnya jauh dari harapan (sepi jamaah) maka kami mencoba meramaikannya, kualitas badan/bangunan masjid masih kalah dari standarisasi tampak perumahan-perumahan yang ada. Masjid belum ter-cat alias belum menarik! Siapapun akan tidak tertarik melihat sesuatu yang ‘tidak menarik,’ dan semua mata akan tertarik bila melihat sesuatu ‘yang menarik.’ Melihat kondisi yang sedemikian rupa, maka lagi-lagi kami mengambil inisiatif untuk melakukan pengerjaan pengecatan badan/bangunan luar masjid.
Dari mana uang kami membeli cat? Bagaimana kualitas cat yang akan digunakan bukan menjadi masalah yang serius bagi kami. Karena Alhamdulillah, untuk niat yang baik pasti selalu ada jalan yang mudah, dimana ada keinginan disitu ada jalan. Dalam waktu yang relatif singkat, kami mengumpulkan nama-nama dermawan yang kami kenal secara kekeluargaan saja, kami ceritakan kondisi masjid tersebut, dan kami sentuh jiwa kedermawanannya dan Kun Fayakun! Sejumlah dana terkumpul dan langsung kami alokasikan untuk membeli cat. Semuanya terasa mudah! Alhamdulillah!
Walaupun target hanya tercapai sampai 80%, namun hati ini terasa lega & bahagia melihat kontribusi yang sudah kami lakukan, melihat kerjasama yang telah kami bangun. Kami percaya! Tindakan lebih penting dari ucapan.
Diujung rangkaian kegiatan baksos ini ada beberapa hal yang kami lakukan seperti tensi darah gratis, pemasangan batas papan dusun, mengajar mengaji, dan pembersihan pantai. Alhamdulillah!
![]() |
| Tensi darah gratis bagi masyarakat Desa Lamteng |
![]() |
| Pengajian bersama remaja Desa Lamteng |
![]() |
| Pemasangan papan nama dusun di Desa Deudap |
![]() |
| Mengajar mengaji di TPA di Mesjid Desa Deudap |
![]() |
| Pembersihan Pantai |



















manusia terlahir tidak akan pernah bisa hidup tanpa bersosial, tanpa lingkungan dan tanpa alam.. manusia makhluk sosial..
BalasHapus